Ternyata Ini Adab Sungkem kepada Ulama Menurut Ajaran Tasawuf


Ringkasan: Sungkem kepada ulama dalam tradisi tasawuf bukan sekadar tata krama sosial, melainkan bagian dari adab talab al-‘ilm — adab menuntut ilmu — yang diyakini menentukan berkah (barokah) ilmu itu sendiri. Artikel ini merangkum dasar adab tersebut dari kitab-kitab klasik tasawuf dan tarekat, bentuk praktiknya sehari-hari, serta batas yang membedakan penghormatan wajar dari sikap berlebihan.

Apa itu Adab Sungkem kepada Ulama Menurut Ajaran Tasawuf?

Ternyata Ini Adab Sungkem kepada Ulama Menurut Ajaran Tasawuf

Sungkem kepada ulama dalam ajaran tasawuf adalah sikap merendahkan diri (tawadu) secara lahir dan batin di hadapan guru atau ulama, sebagai wujud pengakuan atas kedudukan ilmu dan sanad keilmuan yang diembannya. Praktik ini mencakup cara berbicara, cara duduk, cara meminta izin, hingga cara menerima nasihat — semuanya diatur agar hubungan murid-guru tetap menjaga wibawa ilmu.

Dalam kitab-kitab akhlak dan tasawuf klasik, adab ini sering disebut sebagai bagian dari adab al-muta’allim ma’a al-mu’allim — adab pelajar terhadap pengajarnya — yang dianggap sama pentingnya dengan penguasaan materi ilmu itu sendiri.

Mengapa Adab kepada Ulama Penting dalam Tradisi Tasawuf?

Kitab klasik kuning di atas rehal kayu melambangkan transmisi ilmu dan sanad keberkahan guru-murid.

Tasawuf menempatkan hubungan guru-murid (mursyid-murid) sebagai jalur utama transmisi ilmu batin, bukan semata transfer informasi. Karena itu, adab terhadap ulama atau mursyid dipandang berpengaruh langsung terhadap keberkahan ilmu yang diterima murid.

Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim — salah satu rujukan klasik paling banyak dipakai di pesantren untuk mengajarkan etika belajar — menekankan bahwa penghormatan kepada guru adalah salah satu sebab utama ilmu bisa bermanfaat dan melekat pada diri pelajar. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga membahas adab murid terhadap gurunya sebagai bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), sejajar dengan adab kepada orang tua.

Pandangan ini bukan berarti ulama harus disembah atau diperlakukan sebagai figur suci yang bebas dari kritik. Penghormatan yang dimaksud adalah penghormatan proporsional kepada ilmu dan fungsi kealiman seseorang, bukan penghormatan buta terhadap pribadinya.

Dasar Adab Sungkem kepada Ulama dalam Kitab-Kitab Tasawuf

Santri memaknai kitab Ta'lim al-Muta'allim karya Syekh Az-Zarnuji yang memuat adab penuntut ilmu kepada guru.

Beberapa prinsip yang berulang muncul di kitab-kitab akhlak dan tasawuf klasik terkait adab kepada guru:

  1. Menjaga sikap tawadu di hadapan guru. Duduk dengan sopan, tidak memotong pembicaraan, dan tidak berdebat dengan nada meninggikan diri.
  2. Meminta izin sebelum bertanya atau menyela. Az-Zarnuji menyebut pelajar sebaiknya tidak berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat gurunya, dan tidak memulai bicara tanpa izin, kecuali dalam keadaan yang memang membutuhkannya.
  3. Tidak menyakiti hati guru, baik dengan ucapan maupun sikap, karena dianggap dapat menghalangi keberkahan ilmu.
  4. Mendoakan guru, sebagaimana lazim diajarkan di pesantren dan majelis tarekat sebagai bagian dari rasa syukur atas ilmu yang diberikan.
  5. Menerima teguran dengan lapang dada, karena teguran guru dipahami sebagai bagian dari proses pembentukan akhlak murid, bukan sekadar koreksi teknis.

Prinsip-prinsip ini pada mulanya dirumuskan untuk konteks pesantren dan majelis ilmu tradisional, lalu diserap secara luas ke dalam etika tarekat, mengingat banyak mursyid tarekat juga berperan sebagai guru ilmu syariat.

Bentuk Konkret Sungkem kepada Ulama dalam Praktik Sehari-hari

Praktik khidmah santri menyajikan minuman kepada kiai dengan adab dan tata krama santun.

Di lapangan, adab ini biasanya terlihat dalam bentuk-bentuk berikut, yang variasinya berbeda antar daerah dan antar tarekat:

  • Mencium tangan sebagai simbol penghormatan, umum dijumpai di kalangan pesantren Nusantara — meski hukum dan kebolehannya di kalangan ulama fikih sendiri diperdebatkan tergantung konteks dan niatnya.
  • Membungkukkan badan atau menundukkan pandangan saat berbicara dengan guru, sebagai ekspresi tawadu, bukan bentuk penyembahan.
  • Menjaga jarak bicara dan nada suara — tidak berbicara lebih keras dari suara guru dalam satu majelis.
  • Mendahulukan guru dalam hal tempat duduk, giliran bicara, atau pelayanan sederhana seperti menuangkan minuman.
  • Menjaga nama baik guru di depan maupun di belakangnya, termasuk tidak menyebarkan aib pribadi yang tidak berkaitan dengan keilmuan.

Praktik-praktik ini erat kaitannya dengan suasana batin yang juga dibahas di artikel jalan menenangkan hati lewat tasawuf, karena ketenangan batin murid turut memengaruhi cara ia menempatkan diri di hadapan gurunya.

Batas Adab: Menghormati Ulama Tanpa Mengkultuskan

Dialog ilmiah antara ulama dan penuntut ilmu menegaskan batas ta'zim tanpa kultus individu ghuluw.

Bagian yang sering disalahpahami adalah batas antara ta’zim (penghormatan) dan ghuluw (berlebihan hingga menjurus pengkultusan). Ulama fikih dan tasawuf sepakat bahwa penghormatan kepada guru tidak boleh sampai pada titik:

  • Menganggap ucapan guru selalu benar tanpa boleh dikoreksi sama sekali, padahal guru tetaplah manusia yang bisa keliru.
  • Menjadikan sosok guru sebagai perantara ibadah yang menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.
  • Memutus hubungan dengan keluarga atau lingkungan sosial hanya karena perintah sepihak yang tidak jelas dasarnya — sebuah kekhawatiran yang berulang kali diingatkan ulama modern terkait potensi penyimpangan sebagian kelompok pengajian tertutup.

Adab yang sehat justru mendorong murid untuk semakin taat kepada Allah dan semakin baik kepada sesama manusia, bukan sebaliknya. Ketaatan kepada guru dalam tasawuf tetap berada di bawah bingkai syariat, bukan menggantikannya.

Cara Mempraktikkan Adab Sungkem kepada Ulama — Langkah Praktis

Adab berpakaian rapi dan mengucapkan salam saat sowan silaturahmi ke kediaman ulama.
  1. Niatkan penghormatan karena ilmu, bukan karena mengharap sesuatu darinya. Luruskan niat sebelum datang ke majelis.
  2. Datang lebih awal dan berpakaian rapi, sebagai bentuk penghargaan terhadap majelis ilmu.
  3. Dengarkan lebih banyak daripada bicara, terutama saat pertama kali bergabung dalam sebuah majelis atau tarekat.
  4. Ajukan pertanyaan dengan sopan dan pada waktu yang tepat, bukan memotong penjelasan yang sedang berlangsung.
  5. Praktikkan nasihat yang diberikan, karena adab tanpa amal dianggap belum sempurna dalam tradisi tasawuf.
  6. Jaga hubungan baik meski sudah jauh dari majelis, misalnya lewat doa atau kabar sesekali, sebagaimana lazim dianjurkan di lingkungan pesantren.

Kebiasaan menjaga adab ini biasa dirawat lewat amalan-amalan kecil yang konsisten, seperti yang dibahas pada artikel amalan kecil pembuka rezeki, karena banyak tradisi tarekat mengaitkan keberkahan rezeki dan ilmu dengan konsistensi menjaga adab, bukan hanya jumlah amalan yang dikerjakan.

Adab kepada Ulama dan Momen-Momen Keagamaan

Penghormatan kepada ulama biasanya semakin terasa pada momen-momen keagamaan tertentu, seperti peringatan Maulid Nabi, di mana ulama setempat kerap memimpin majelis salawat dan menyampaikan tausiyah tentang akhlak Rasulullah — termasuk akhlak dalam berguru. Momentum semacam ini sering dimanfaatkan pesantren dan majelis tarekat untuk mengingatkan kembali adab murid kepada guru.

Begitu pula pada bulan-bulan tertentu yang dianggap istimewa dalam kalender Hijriah, seperti dibahas pada artikel rahasia bulan Muharram, banyak majelis ilmu mengadakan pertemuan khusus yang menegaskan kembali pentingnya adab dalam menuntut ilmu, termasuk adab kepada ulama sebagai pewaris para nabi.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

  • Menyamakan adab dengan ketaatan buta. Menghormati guru tidak berarti membenarkan semua ucapannya tanpa mempertimbangkan dalil.
  • Mengukur kualitas ilmu seseorang hanya dari seberapa banyak murid sungkem kepadanya, padahal kedalaman ilmu dan keselarasan dengan syariat tetap jadi tolok ukur utama.
  • Menjadikan simbol lahiriah (mencium tangan, membungkuk, dsb.) sebagai formalitas kosong tanpa disertai kesungguhan menerapkan nasihat guru dalam keseharian.
  • Mengabaikan adab justru saat berbeda pendapat dengan guru, padahal perbedaan pandangan seharusnya tetap disampaikan dengan cara yang santun.

FAQ — Adab Sungkem kepada Ulama Menurut Ajaran Tasawuf

Apa itu adab sungkem kepada ulama dalam tasawuf?

Sikap tawadu lahir dan batin murid kepada guru atau ulama, mencakup cara bicara, cara duduk, dan cara menerima nasihat, sebagai bagian dari adab menuntut ilmu yang diyakini memengaruhi keberkahan ilmu tersebut.

Bagaimana cara mempraktikkan adab ini bagi pemula?

Mulai dengan niat yang lurus, datang tepat waktu, lebih banyak mendengar daripada bicara, bertanya dengan sopan pada waktu yang tepat, dan mempraktikkan nasihat yang diterima secara konsisten.

Apakah mencium tangan ulama termasuk wajib dalam Islam?

Tidak. Mencium tangan adalah tradisi penghormatan yang berkembang di sebagian budaya Muslim, bukan kewajiban syariat. Hukumnya bergantung pada konteks, niat, dan tidak dianggap sebagai bentuk pengagungan berlebihan.

Apa batas antara menghormati ulama dan mengkultuskannya?

Batasnya adalah ketaatan tetap tunduk pada syariat: guru tetap manusia biasa yang bisa dikoreksi, dan penghormatan tidak boleh menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.


Ditulis oleh Tim Redaksi tasawufcenter.com, disusun berdasarkan rujukan kitab-kitab akhlak dan tasawuf klasik (di antaranya Ta’lim al-Muta’allim karya Az-Zarnuji dan Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post